Langsung ke konten utama

Antara Cinta, Sayang, dan Kasihan

Apa alasanmu menikah?

a. Cinta
b. Sayang
c. Kasihan
d. Jawaban a, b, dan c salah

Oke, sebelum bahas lebih lanjut, sebenernya ini tema talkshow Ladies Lounge tadi malem di Smart FM. So..bagi saya pribadi sayang banget kalau hal ini enggak dishare, utamanya buat individu yang sedang menimbang-nimbang untuk segera menikah pun yang memilih untuk menunda menikah, karena bagi saya pribadi pernikahan itu ibaratkan organisasi/tim, dimana ketika kedua orang individu dipersatukan dalam ikatan pernikahan, mereka PASTI menginginkan pernikahannya langgeng sampai kakek-nenek, adapun ketidak sesuaian karakter/perlakuan diibaratkan seperti bumbu penyedap yang justru seharusnya akan menjadikan ikatan pernikahan lebih kuat bin survive, yang intinya sebelum memutuskan untuk menikah kita harus menyamakan visi dan misi kita untuk kedepannya, apa yang menjadi harapan, apa yang ingin dicapai setelah menikah, dll.

Kembali ke jalan yang benar

Pernikahan merupakan salah satu keputusan terbesar yang individu buat. Seperti yang saya bilang sebelumnya bahwa didalam pernikahan tentunya ada mimpi, harapan, dan tujuan, makanya sering banget kita denger kalau orang bercerai alasannya karena udah enggak 'sejalan' lagi. Tapi, keputusan menikahpun bagi setiap indvidu pastinya berbeda-beda, dimulai dari desakan umur, status sosial, cinta, accident, atau bahkan untuk kemajuan suatu usaha/bisnis, dan masih banyak lagi alasan lainnya. Well, pertanyaan pembuka pada artikel ini merupakan jabaran dari segi perasaan/emosi pada dua individu yang menikah.

Cinta 
Cinta merupakan tingkatan tertinggi dalam suatu hubungan spesial. Menurut Baron (salah satu tokoh Psikologi Sosial yang sangat berpengaruh) cinta itu dibagi kedalam 6 tingkatan diantaranya ada cinta menggebu dan cinta sejawat. Cinta menggebu biasanya terjadi pada pasangan kencan/pacaran dimana tigkatan cinta ini ada ketertarikan pada pasangan secara fisik/sex, biasanya cinta menggebu akan menurun kadarnya ketika memasuki pernikahan, dan biasanya setelah pernikahan cinta menggebu ini hanya berlaku untuk perempuan, nah laki-laki cenderung beralih kepada cinta sejawat. Cinta sejawat merupakan cinta yang ada pada hubungan sosial yang dekat, seperti orangtua-anak, teman, rekan kerja, dan tetangga. Bedanya cinta sejawat lebih menekankan pada aspek kerjasama yang saling menguntungkan, dan laki-laki cenderung untuk memiliki cinta sejawat pada pasangannya setelah menikah, dimana cinta timbul ketika pasangan saling bekerja sama dalam melakukan suatu kegiatan untuk mencapai suatu tujuan.

Bagi saya pribadi, cinta itu sebagai bentuk hasil dari pengondisian, hal ini juga dijelaskan oleh Baron bahwa kita bisa menciptakan romansa cinta hanya dengan mengubah kondisi individu. Untuk menguji hipotesisnya ini, Baron melakukan suatu percobaan, beberapa laki-laki dan perempuan yang tidak saling mengenal dimasukkan ke dalam laboraturium secara berpasangan. Mereka diwajibkan menatap mata pasangannya selama dua menit, setelah itu dilakukan sentuhan fisik seperti menyentuh tangan, dan setelah mereka keluar dari laboraturium perasaan mereka berubah tarhadap lawan jenis yang dipasangkannya tadi, ada rasa suka diantara keduanya. Selain itu Baron juga menjelaskan cara-cara menumbuhkan rasa cinta dengan mengondisikan lingkungan, seperti memutarkan film-film romantis, mendengarkan lagu-lagu cinta, dan membaca kisah-kisah percintaan, hal lain yang sangat membantu dengan mendekatkan ia pada orang-orang yang dilanda cinta. Simplenya menurut saya, hal ini dilakukan untuk menyamakan frekuensi, agar orang yang tidak dilanda cinta menjadi terkondisikan untuk merasakan cinta.

Sayang 
  
Ada yang mendefinisikan  bahwa sayang itu posisinya di bawah cinta, bahkan teman saya bilang bahwa di duna ini kehadiran cinta hanya ada di dalam lagu-lagu/film/cerita/puisi, ya, menurutnya di antara pasangan yang ada bukan perasaan cinta seperti yang dielu-elukan lagu romantis, tetapi yang ada hanyalah perasaan sayang. Pendapat lain mengatakan bahwa, rasa sayang itu sifatnya global, dimana sayang itu timbul dari hasil interaksi antara individu seperti halnya teman. Sayang juga diletakkan pada hal-hal yang kita kasihi, seperti benda ke"sayangan", singkatnya sayang merupakan rasa indah  berbeda yang diberikan pada hal-hal yang sifatnya umum, maka pendapat lainpun mengatakan, jika cinta itu hanya ditunjukkan pada hal-hal yang lebih spesial, sementara sayang dapat dibagi-bagi.

Rasa sayang timbul dengan diawali dengan rasa suka atau bahkan kagum. Suka dan kekaguman/perasaan nyaman yang dihasilkan dari komunikasi intensif lambat laun akan melahirkan perasaan sayang, namun dalam hubungan romantis rasa sayang bisa timbul justru karena diawali rasa kasihan. Kasihan dengan kondisi ekonominya, kasihan dengan status soasialnya, kasihan dengan masa lalunya, dan masih banyak lagi kasihan-kasihan lain yang pada akhirnya menimbulkan rasa sayang pada pasangan. 

Kasihan 
Seperti yang dibahas sebelumnya, bahwa kasihan merupakan salah satu penyebab alasan mengapa timbul perasaan sayang pada pasangan. Terasa menyedihkan memang jika hubungan diawali dengan rasa kasihan, namun Anda tidak perlu khawatir, karena rasa kasihan ini tidak akan terus terdefinisikan menyedihkan manakala diimbangi dengan rasa sayang. Bahkan jika hubungan diawali dengan rasa kasihan, dan Anda berusaha mengimbanginya dengan perasaan sayang, maka bukanlah suatu hal yang mustahil jika kelak hubungan romantis Anda menimbulkan perasaan cinta.

Antara Cinta, Sayang, dan Kasihan dalam Pernikahan
Pernikahan merupakan penyatuan dua individu dan dua keluarga besar yang berbeda. Pernikahan terjadi dengan adanya janji suci yang diucapkan ke dua mempelai pada Tuhan, oleh karenanya Tuhan sangat tidak menyukai orang-orang yang bercerai, karena perceraian sesungguhnya telah menyalahi janji suci, meski perceraian oleh sebagian agama diperbolehkan.

Menikah dan mengarungi bahtera rumah tangga merupakan impian bagi sebagian besar orang, meski saya pribadi selalu berpendapat bahwa menikah itu pilihan. Anda tidak bisa memaksakan diri Anda untuk berpura-pura siap memasuki gerbang pernikahan dengan berbagai alasan seperti desakan orangtua, umur, lingkungan sosial, bahkan ekonomi, karena pernikahan yang tidak berlandaskan cinta dan kematangan individu akan terasa berat untuk diarungi, karena dalam pernikahan terdapat tugas-tugas perkembangan keluarga yang harus dipenuhi, dengan persentase minimal 70 % (selengkapnya tentang tugas-tugas perkembangan keluarga saya bahas di sini).  Tugas perkembangan merupakan penentu dari keberhasilan suatu pernikahan, oleh karena itu perasaan cinta sangat diperlukan dalam melewati setiap fasenya.

Perasaan cinta yang melandasi suatu pernikahan penting adanya, mengapa? Karena ketika menikah bukan hanya interaksi antara pasangan saja, tetapi dengan kehadiran anak tentunya menjadikan tantangan tersendiri, dimana anak diharapkan akan tumbuh menjadi individu yang penuh cinta, penyayang, pengasih di dalam lingkungan sosialnya, hal ini ditentukan oleh keharmonisan pasangan suami istri. Anak belajar dengan melihat pada role modelnya  (teori social learning Bandura), tentunya pembelajaran pertama tentang emosi positif ini akan ia pelajari dari orangtuanya, oleh karena itu tidaklah mengherankan jika anak-anak bermasalah biasanya terlahir dari keluarga yang bermasalah/tidak harmonis, karena disadari atau tidak, anak mampu merasakan keharmonisan kedua orangtuanya, meski orangtua menutup dan berusaha tidak memperlihatkan ketidak harmonisan hubungannya.

Masalah dalam Pernikahan

Meski dilandasi cinta pada awalnya, tidak menutup kemungkinan dalam perjalanan pernikahan ditemukan berbagai masalah. Permasalahan yang terjadi, tentunya merupakan suatu hal wajar, namun seringkali masalah yang timbul menjadi boomerang, bahkan mengantarkan kepada perceraian. Terjadinya perceraian tentu diakibatkan dari berbagai faktor, tetapi intinya perceraian terjadi karena kedua individu (pasangan) sudah tidak ingin lagi mempertahankan pernikahan, tentunya jika masih ada salah satu diantara pasangan memiliki keinginan untuk mempertahankan pernikahan, maka perceraian mustahil terjadi, untuk itulah fase pemantapan (pengantin baru) merupakan pondasi awal penentunya kebahagiaan dan keberlangsungan keluarga kedepannya. Menurut Duvall Tahapan kritis pada fase pemantapan adalah tahapan pengenalan kenyataan dan kritis perkawinan, oleh karena itu penting sekali bagi setiap pasangan muda untuk memenuhi tugas perkembangan pada fase pemantapan, sebelum fase pemantapan ini berakhir, dimana berakhirnya fase pemantapan ini ketika seorang istri menyadari bahwa dirinya hamil, maka fase akan berganti menjadi fase harapan, dan perceraian cenderung diurungkan ketika pasangan telah memiliki anak.

Seiring berjalannya waktu pernikahan, pada setiap pasangan terjadi perbedaan kuliatas hubungan. Perbedaan tipe pernikahan ini dijelaskan oleh Pspitawati (2012) yang mengacu pada Oslon, beliau membagi pernikahan menjadi tujuh yaitu:


1. Perkawinan pasangan tanpa vitalitas

Kondisi perkawinan yang labil dengan pasangan yang tidak merasa puas dengan perkawinannya. Pasangan tipe ini biasa menikah pada usia terlalu muda, masih memiliki penghasilan rendah, dan biasanya berasal dari keluarga yang berantakkan.

2. Perkawinan pasangan finansial
Kondisi banyak konflik tidak terselesaikan, dan pasangan tidak merasa puas dengan komunikasi dalam perkawinan dan tidak puas dengan kepribadian masing-masing individu. Pasangan tipe ini lebih memprioritaskan karir daripada keluarga dan uang menjadi sangat penting dalam kehidupan keluarga di atas makna esensi keluarga.

3. Perkawinan pasangan konflik
Kondisi tidak puas dalam berbagai aspek misalnya seksual, kepribadian pasangan, komunikasi, dan pemecahan masalah yang sedang dihadapi. Pasangan tipe ini selalu diwarnai dengan konflik, sehingga mencari kepuasan dari dimensi eksternal, serta memfokuskan pada hobi atau keagamaan.

4. Perkawinan pasangan tradisional
Kondisi perkawinan yang stabil dengan pencapaian kepuasan dalam banyak aspek kehidupan keluarga, namun masih memiliki masalah serius dalam aspek komunikasi dan seksual. Kebahagiaan pasangan tipe ini lebih didasari atas aspek tradisional religius dan hubungan yang baik antara kedekatan kerabat atau keluarga besar dan teman-teman.

5. Perkawinan pasangan seimbang
Kepuasan yang cukup baik dalam komunikasi dan resolusi konflik karena pasangan ini lebih memprioritaskan keluarga dibandingkan aspek lain, memiliki kepuasan setara antara suami dan istri dalam aspek aktifitas waktu luang, pengasuhan anak, dan kepuasan seksualitas.

6. Perkawinan pasangan harmonis
Kepuasan perkawinan yang diwujudkan dengan ekspresi kasih sayang, dan kepuasan seksual.

7. Perkawinan pasangan penuh vitalitas
Tingkat kepuasan yang tinggi didasari atas pasangan suami istri harmonis dalam menjalin hubungan baik, kepribadian yang saling melengkapi, komunikasi yang baik,mencari solusi dari konflik,kepuasan secara seksual, maupun finansial.

Tentunya melihat tipologi ini, semua pasangan pernikahan mengingnkan termasuk ke dalam kategori pasangan penuh vitalitas, dimana kategori ini merupakan kategori ideal yang harus selalu diusahakan oleh setiap pasangan.

Hal lain yang tidak kalah menarik adalah adanya puber kedua, atau hadirnya cinta lain selain cinta kepada pasangan (orang ketiga). Sebenarnya secara psikologi, yang namanya puber kedua itu tidak ada. Puber kedua biasanya terjadi ketika pasangan memasuki usia 40an, dimana pada usia ini baik suami.istri yang berkarir sedang ada di posisi puncak, dan pada usia ini usaha menumbuhkan benih-benih cinta diantara pasangan mulai meredup, walhasil, ketika suami/istri menemukan rekan kerja lain yang jauh lebih nyaman untuk diajak berbagi/tukar pikiran maka ia akan merasa "kembali" diperhatikan, jadi individu baru "seakan-akan" telah mengisi kekosongan, maka tidaklah mengherankan untuk mendapatkan "perhatian" dari lawan jenis yang dirasa nyaman ini, suami/istri lebih sering memperbaiki penampilannya, yang singkatnya ia membutuhkan "perhatian" yang tidak ia dapatkan lagi dari pasangannya.

Penutup 

Banyak  hal yang akan terjadi ketika memasuki pernikahan. Menurut penuturan beberapa pendengar di radio tadi malam, banyak juga ternyata yang menikah tanpa cinta, hanya saja ketika mereka menyadari tidak adanya cinta dalam pernikahan mereka, hal yang dilakukan oleh pasangan adalah bagaimana menumbuhkan perasaan sayang, setidaknya dengan perasaan sayang diantara keduanya tugas perkembangan keluarga tidak akan sulit untuk dijalani, pun ketika menghadapi konflik-konflik yang terjadi. Terbukti meski tanpa cinta, pernikahan mereka berjalan baik-baik saja. Ketika pernikahan diawali dengan perasaan kasihan, misalnya kasihan dan menikahinya untuk meningkatkan status ekonomi pasangan, maka imbangilah rasa kasihan itu dengan perasaan sayang, karena dengan mengimbangi dengan perasaan sayang maka besar kemungkinan hubunganpun akan melahirkan perasaan cinta. 

Seperti yang dikutip dari Smart FM, terdapat 3 hal penting untuk diperhatikan


1.  Kedekatan emosional

2. Komitmen. Apakah anda dan pasangan punya harapan dan visi yang sama dalam menjalani suatu hubungan

3.  Gairah atau hasrat 

Setiap individu, seharusnya membawa yang terbaik dalam dirinya ketika menjalin suatu hubungan. Ciptakan momen momen spesial sebagai perekat hubungan cinta seperti halnya masa pacaran dulu. Bagi anda yang belum memasuki gerbang pernikahan, ada baiknya cek dulu apa alasan Anda dan pasangan dalam menjalin suatu hubungan
(Hersiana et.al)
  




 
 
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bahagianya Menjadi Anak IKK (Ilmu Keluaraga dan Konsumen)

Milih jurusan itu udah kaya milih jodoh, karena salah-salah milih malah bikin pengen cepet-cepet pisah.

Daaann...inilah aku sekarang, di departemen yang sangat aku cintai IKK =*
Masih banyak banget orang di luar sana yang memandang sebelah mata sama jurusanku ini, utamanya ngelihat judulnya yang mungkin ya dirasa sangat simple dan semua orang biasanya melalui tahap itu, keluarga. Eniwei, meski enggak belajar IKK pun banyak yang masih beranggapan kalau keluarga itu bisa banget dipelajari dengan mudah, jadi enggak usahlah buang waktu kuliah buat mempelajari hal yang kayak begini -,-". Ya..namanya juga pendapat orang yang enggak tau, well seenggaknya dengan banyak anggapan seperti itu justru bagiku malah makin penasaran sama jurusan ini, hingga akupun pada akhirnya berpindah haluan dan lebih memilih IKK untuk dipelajari lebih dalam.
Di IKK ngapain sih?
Mungkin itu pertanyaan klise yang ditanyain banyak orang setelah mendengar jurusan yang rada enggak biasa ini. Oke, dari namanya aja …

Between of 2 Type (INTJ-INFJ)

Kenal sama MBTI itu pas kuliah Pengantar Psikologi, dan hasilnya langsung nunjukin kalau saya tipe INTJ. Hmmmhhh... Dan INTJ ini tetep konsisten ada pada diri saya. Pokoknya pas saya nyoba lagi ngisi tes MBTI, hasilnya PASTI INTJ, hingga entah ada angin apa suatu ketika saya iseng ngisi lagi di tempat yang berbeda dan hasilnya berubah jadi INFJ.

Saya di sini nggak akan ngejelasin tetek bengek ciri-ciri INTJ or INFJ itu kayak gimana. Pokoknya kalau penasaran, ya tinggal googling aja. Banyak bangeett ulasan keduanya. Pokoknya di sini saya bakalan ceritain keajaiban menjadi seorang wanita INTJ yang adakalanya berubah jadi INFJ :D.

Entah kenapa dari saya kecil, saya suka ngerasa beda sama temen-temen cewe saya. Beda aja, nggak tau kenapa. Beda karena saya doyan manjat-manjat, nggak suka dipanggil "eneng" (panggilan buat anak cewe Sunda) yang emang kedengerannya feminim banget, suka mikir yang aneh-aneh yang nggak pernah orang lain pikirin (jadi waktu saya TK saya berusaha keras …